Tujuan



Sebuah gerakan nasional dengan moto membudayakan teknologi, secara resmi diluncurkan berbarengan dengan upacara pembukaan resmi Habibie Festival yang diadakan pada Kamis, tanggal 11 Agustus 2016 di Museum Nasional Indonesia. Pendiri dan juga sekaligus ketua Berkarya!Indonesia, Ilham Habibie, yang memperkenalkan dan meluncurkan gerakan nasional yang diharapakan bisa menjadi ekosistem bagi orang-orang yang terinspirasi oleh Presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie-ayah beliau dalam memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bumi Indonesia ini.

Melalui Berkarya!Indonesia, Ilham Habibie berharap dapat menampung dan mendorong ide dan karya anak bangsa serta menemukan solusi berkesinambungan atas persoalan IPTEK nasional. Dalam pidatonya untuk memperkenalkan Berkarya!Indonesia, Ilham Habibie mengatakan bahwa fokus utama gerakan ini adalah mengubah pola pikir bangsa ini dari menjadi konsumen semata menjadi produsen dari apa yang dibutuhkan dalam kehidupannya, terutama yang terkait dengan teknologi. Ia mengatakan bahwa berubah menjadi bangsa produsen adalah kunci utama untuk mengubah nasib bangsa kedepan.

Teknologi mampu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan daya saing serta bermanfaat bagi negara dan bangsa dan dapat digunakan untuk mengubah pola pikir bangsa. Hampir 60 persen dari Produk Domestik Bruto Indonesia berasal dari konsumsi, terutama konsumsi barang impor, dan hal inilah yang menurut Ilham Habibie perlu dibenahi.

Tujan Berkarya!Indonesia adalah meningkatkan konten lokal serunya, dengan menambahkan karenanya diperlukan pendidikan, penelitian dan pengembangan. Ia menunjuk kepada ayahnya, B.J. Habibie, yang selalu mengatakan bahwa kunci yang paling penting adalah sumber daya manusia terbarukan dan perbaikannya dapat diperoleh melalui proses nilai tambah.

Menurutnya langkah pertama dalam menjadikan bangsa Indonesia lebih mandiri dan maju adalah dengan mengapresiasi karya-karya anak bangsa sendiri. Namun ia juga melihat bahwa karya-karya anak bangsa ini jumlahnya masih amat sangat kurang. Salah satu sebab kurangnya karya ini mungkin dikarenakan lamanya proses mewujudkan sebuah ide menjadi sesuatu yang benar - benar berguna bagi masyarakat. Dari sekedar ide, perlu dibuatkan purwarupanya, atau prototype, untuk melihat apakah ide tersebut dapat berfungsi dengan baik secara teknis. Setelah prototype tersebut harus diproduksi secara massal melalui industri, tetapi dengan memenuhi satu syarat lainnya, yaitu komersialisasi.

Inovasi sesungguhnya hanya bisa dikatakan sebagai inovasi bila ide benar-benar dapat memperbaiki kualitas hidup, dalam bentuk yang berkelanjutan. Inovasi juga harus bisa diterapkan kedalam kehidupan kita, berupa produk komersial tegasnya. Ilham Habibie juga mengatakan bahwa walapun memang ada banyak inisiatif dan inovasi di Indonesia, namun permasalahan yang masih dihadapi adalah bahwa tidak terdapat kesinambungan diantara mereka, semua masih sepotong-sepotong.

"Yang ingin kita dorong dengan bekerjasama dengan banyak institusi lainnya yang sudah berkiprah di bidang ini adalah, kita mau bersama-sama menyukseskan ini agar menjadi susuatu yang bermanfaat bagi negara dan bangsa", tandasnya. Ia juga menyebut bahwa ada unsur lainya yang juga harus mendapatkan perhatian, yaitu kewirausahaan. Jadi ada teknologi, inovasi, kewirausahaan, industri dan komersialisasi. Ini harus disambungkan satu sama lain.

Hubungi

Berkarya!Indonesia Noble House Building, 36rd Floor
Jl. Ide Anak Agung Gde Agung Kav E4.2 No. 2
Mega Kuningan, Jakarta Selatan - 12950, Indonesia

Phone: +6221 2978 3054
info@berkaryaindonesia.com

Penyelenggara